Prinsip Kedirian Ibadah

Tanya:

Assalamualaikum Wr. Wb.

Saya langsung pada pokok pertanyaan bahwa diwajibkan bagi kaum muslimah menutup aurat dengan jilbab yang mana berdosa bila kewajiban tidak dilaksanakan, bilamana menutup aurat dengan jilbab belum dilaksanakan bagaimana dengan amal ibadah kami sebagai muslimah apakah diterima serta bagaimana nilai dan hukumnya?

Saya ingin menambahkan pertanyaan saya, jilbab adalah jenis pakaian yang menyembunyikan seluruh aurat serta bentuk badaniah dengan kata lain bentuk pakaian tersebut lurus dan lebar, lalu bagaimana dengan yang dipakai saat ini dengan memakai kerudung tertutup hingga leher dan pakaian celana dan jas tertutup, apakah ini dapat diterima sebagai menutup aurat?

Demikian bertanyaan saya atas perhatian Bapak Ustadz terima kasih.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Inda Lubis - Jakarta

Jawab:

Ibu Inda, pertanyaan Ibu yang pertama mengenai ibadah seorang muslimah yang tidak memakai jilbab itu mirip dengan pertanyaan "Apakah puasanya orang yang tak salat diterima?" (tengok Tanya Jawab(64) Diterimakah Puasanya Orang yang Meninggalkan Salat?" di website PV).

Pertanyaan itu muncul karena adanya keraguan: apakah diterima sebuah ibadah jika perintah (ibadah) yang lain belum dilaksanakan; apakah puasa saya diterima bila saya tidak melaksanakan salat; apakah haji saya diterima bila saya belum menunaikan zakat; dll.

Puasa ibadah tersendiri, salat ibadah tersendiri; menutup aurat ibadah, dan ibadah-ibadah lainnya juga mempunyai kediriannya masing-masing, apakah semua itu antara satu dan lainnya saling mempengaruhi, hingga jika satu perintah (ibadah) tidak dilakukan maka akan membatalkan ibadah lainnya yang telah didirikan?

Untuk menjawab pertanyaan seperti ini, kembalikan saja ke prinsip kedirian masing-masing ibadah. Juga perlu kita yakini bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan amal perbuatan manusia.

"Sesungguhnya mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan baik. (QS. 18:30)"

"Kami melimpahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. (QS. 12:56)" Dan banyak ayat lagi yang menyatakan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan amal perbuatan.

Juga kiranya perlu diyakini ke-Maha Kasih-an, ke-Maha Sayang-an, ke-Maha Bijaksana-an Tuhan, dan sejenisnya.

Apalagi jika orang tersebut akhlaknya baik, budi pekertinya tinggi, penyantun, dan semacamnya, bila ternyata ia tidak mengenakan jilbab, misal karena, "..ah saya kok tambah kurang percaya diri jika mengenakan jilbab", atau sekedar malas, kurang familiar, menyesuaikan lingkungan, dll, alasan-alasan seperti ini jelas tidak sampai merusak ibadah lainnya.

Dalam kondisi spt ini, kita kembalikan saja ke hukum kedirian masing-masing ibadah. Selama salatnya dilakukan dengan baik, menetapi syarat-rukunnya, juga khusyuk, maka hendaknya kita yakin saja Allah tidak menyia-nyiakan ibadah hamba-Nya.

Ukuran diterima dan tidak itu, bagi kita, cukuplah kita lihat tindak-tanduknya sehari-hari: jika baik berarti diterima, jika tidak ya tidak.

Namun jika orang tersebut akhlaknya bejat, ketidakmauannya memakai jilbab semata karena kebejatan moralnya, maka sebenarnya yang merusak ibadahnya itu tiada lain kebobrokan moralitasnya itu.

Orang yang moralitasnya rendah spiritualitasnya tentu lebih rendah lagi. Padahal dalam setiap ibadah, di samping syarat-rukun (lahiriyah) yang harus dipenuhi, spiritualitas-keikhlasan-transendentalitas juga harus dipenuhi. Bisa jadi ia, dlm ibadah tertentu, sudah memenuhi semua syarat-rukunnya, tapi karena ia tidak mengiringinya dengan spiritualitas (keikhlasan beribadah semata demi Allah) maka ibadahnya tersebut menjadi 'hampa', tidak ada bobotnya, hingga Allah tidak berkenan menerimanya.

***

Pertanyaan yang kedua, mengenai pakaian spt yang Ibu gambarkan itu sudah cukup menutup aurat. Yang penting tidak sampai mengundang perhatian dan syahwat laki-laki yang memandang. Celana dan baju ketat yang memperlihatkan garis dan lekuk tubuhnya, harap dihindari. Seperti ini sudah cukup. Demikian, Wallahua'lam bisshawaab.

Wassalamualaikum Wr. Wb.
Arif Hidayat