Tentang Marketing Islami dan Keterbelakangan Umat

Tanya:

Saya ingin menanyakan beberapa hal berikut:
  1. Selama ini saya perhatikan dunia marketing (saat ini) rasanya sangat bertentangan dengan ajaran Islam. Yang diperhitungkan hanya untung saja. Pekerjaan apapun dianggap halal, seperti bisnis hiburan malam, pub,diskotik, pabrik bir dan sebagainya. Bisnis-bisnis tersebut memang banyak menghasilkan untung, namun dampak negatifnya (mudharatnya) juga besar. Sayangnya, dalam teori-teori marketing saat ini hal-hal tersebut sama sekali tidak disinggung. Yang ada hanyalah bagaimana meraup laba sebanyak-banyaknya. Adakah solusi Islam terhadap masalah ini? Selain itu, adakah Islam juga mengajarkan cara meraup untung sebanyak-banyaknya tanpa dampak negatif (mudharat) sehingga kita bisa jadi konglomerat yang Islami?

  2. Bagaimana cara yang Islami agar kita cermat dalam menggunakan waktu dan tidak membuangnya percuma. Seperti orang Barat yang sangat menghargai waktu sehingga hidupnya lebih maju?

  3. Mengapa umat Islam mengalami keterbelakangan? Apa saja sebabnya dan bagaimana solusinya? Apakah diperlukan seseorang seperti Nabi yang memimpin seluruh umat ini?

Baihaqi, Medan

Jawab:

  1. Secara singkat dapat kami sampaikan bahwa di antara prinsip dasar untuk memiliki harta yang sah dalam Islam adalah melalui perniagaan (marketing).
    Hal ini bisa dilihat pada surat al-Nisa'/4: 29 yang artinya, "Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memakan harta sesamamu dengan batil, kecuali melalui perniagaan di antara kalian dengan (asas) kerelaan..."

    Dalam perniagaan penjual boleh mengambil untung sebesar-besarnya asal jangan sampai pada batas eksploitasi. Penjualan semacam ini dalam istilah fiqh dikenal dengan nama "Bay'u 'l-Musaawamah".

    Obyek perniagaan bisa saja berupa barang maupun jasa. Jenis-jenis barang atau jasa yang bisa diperjual-belikan adalah jenis-jenis barang atau jasa layanan yang dibenarkan atau dihalalkan oleh syariat, bermanfaat dan tidak menimbulkan dampak negatif (madharat) bagi masyarakat.

  2. Caranya adalah dengan menyadari dan meyakini bahwa waktu memang sangat berharga, lebih berharga dari emas. Gunakan waktu yang ada sebaik-baiknya, jangan sia-siakan. Tanamkan dalam diri bahwa jika kesempatan yang ada saat ini disia-siakan, ia tak akan datang lagi untuk yang kedua kalinya. Ingat selalu firman Allah dalam surat al-'Ashr/103: 1-3, "Demi waktu. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh (berbuat dan berkarya dalam kebaikan/bermanfaat bagi kehidupan), saling mengingatkan dalam kebenaran juga saling menasehati untuk menetapi kesabaran".

    Untuk membiasakan diri tepat waktu dan disiplin, mungkin bisa dibuat semacam time schedule, jadual atau work plan. Anda tidak harus selalu menolak apa yang dihasilkan oleh orang non-Islam. Selama hal tersebut tidak berlawanan dengan prinsip Islam tak ada salahnya Anda mengerjakannya. Ingat ungkapan Sahabat Ali ra. "Lihatlah pada apa yang diucapkan dan jangan kau lihat siapa yang mengucapkan". Kebenaran dan kebaikan akan tetap berupa kebenaran dan kebaikan meskipun datang atau diucapkan oleh penjahat. Sebaliknya, dosa dan kesalahan tetaplah dosa dan kesalahan meskipun dilakukan atau diucapkan oleh pendekar kebaikan.

  3. Jawaban atas pertanyaan ini akan sangat bervariatif. Namun kami hanya akan menyoroti masalah ketertinggalan dalam bidang teknologi karena ini yang tampak signifikan menurut kami. Solusinya, ya, generasi Islam ini harus juga memperhatikan, memperlajari dan menguasai teknologi. Jangan hanya berkutat pada perbedaan mazhab. Kirimkan mahasiswa-mahasiswa Islam untuk belajar teknologi ke negera-negara dengan teknologi maju. Dengan adanya proses belajar dalam bidang ini diharapkan akan muncul lompatan-lompatan ke depan dalam bidang teknologi.

Socheh Ha.