Transaksi di Internet

Tanya:

Fenomena revolusi informasi yang ditandai dengan berkembang pesatnya jumlah pemakai media ini, menjadikan Internet sebagai kebutuhan yang dominan dalam tatanan kerja modern. Setiap orang nantinya akan terhubung melalui Internet sehingga dapat saling berbagi informasi secara leluasa, aktifitas tukar-menukar data dan informasi dapat dilakukan secara mudah, cepat dan efisien.

Saya ingin menanyakan tentang hukumnya transaksi jualbeli yang dilakukan lewat internet yang diketahui hanya gambar dan bentuknya saja, padahal kita belum tahu apakah barang tersebut ada cacatnya!!!

Terima kasih atas jawabanya (disertai dengan dalil dan haditsnya).

M. Hatta - Jakpus

Jawab:

Sdr. Hatta yang baik,
Dalam tinjauan fiqh, transaksi semacam itu bisa masuk dalam kategori transaksi "istishna'" (transaksi memesan sesuatu yang belum ada). Para ulama berbeda pendapat dalam melihat transaksi jual beli semacam ini, apakah termasuk jual beli, atau janji untuk jual beli, atau transaksi sewa, atau termasuk jenis transaksi baru. Kebanyakan ulama kontemporer memasukkannya dalam satu bentuk transaksi baru yang belum ada sebelumnya.

Secara analogis (qiyas) transaksi semacam ini tidak boleh menurut tinjauan hukum Islam, karena komoditasnya belum ada atau tidak exist di depan penjual dan pembeli. Namun para ulama Hanafi memperbolehkannya karena pertimbangan kebutuhan dan dianggap baik (istihsan). Dengan demikian obyek transaksi ini adalah komoditas dan sekaligus pekerjaan yang keduanya dalam jaminan.

Transaksi semacam ini di diperbolehkan dengan syarat-syarat sebagai berikut:
  1. Telah populer dilakukan oleh masyarakat,
  2. Harus disebutkan dalam perjanjian transaksi sifat-sifat dan kriteria komoditas yang dipesan.
  3. Ditentukan waktu pembayaran dan waktu pengiriman barang.
  4. Dalam transaksi ini juga boleh dicantumkan persyaratan-persyaratan ganti rugi dari kedua belah pihak.
  5. Sistem pembayaran boleh secara kontan maupun cicilan, sesuai perjanjian.

Dalam transaksi semacam ini juga boleh dilakukan pembatalan transaksi oleh pembeli, bila ternyata komoditas yang dipesan tidak sesuai dengan kriteria yang disepakati atau cacat (defected). Imam Abu Yusuf, dari ulama Hanafi mengatakan tidak boleh dilakukan pembatalan transaksi, karena akan merugikan pihak penjual.

Terkadang transaksi semacam ini, bisa mengandung persyaratan-persyaratan yang menjurus kepada hal-hal yang terlarang oleh agama, seperti mengandung unsur riba sebagaimana pada kasus bila pembayaran terlambat maka dikenai bunga, misalnya. Hal-hal seperti inilah yang patut diperhatikan dalam transaksi semacam ini.


Muhammad Niam


Catatan:
Diambil dari Kumpulan Fatwa Masalah-masalah Ekonomi, Dari Majlis Fiqh negara Kuwait.