Makmum Sendirian di Belakang Shaff Lainnya

Pertanyaan:

Assalamu`alaikum wr. wb.

1. Sewaktu sholat jum'at, karena keterbatasan tempat, maka jama'ah yang tidak kebagian tempat di dalam masjid, sholat di luar masjid. Hal ini mengakibatkan shafnya berantakan. Yang ingin saya tanyakan, apakah mengikuti shaf termasuk syarat sahnya sholat kita?

2. Ketika Ramadhan kemarin, teman saya pergi ke Jepang selama seminggu. Ketika itu dia tidak puasa karena alasan musafir. Apakah hal tersebut dapat dibenarkan?


Ahmad Royhan


Jawaban:

Assalamu`alaikum wr. wb.

1. Merapatkan barisan [shaff] dalam shalat berjamaah sangat dianjurkan. Dalam hal ini, seorang imam sebelum melangsungkan ibadah shalat diperintahkan untuk mengingatkan para jamaah agar merapatkan shaff dan mengisi kekosongan yang terdapat di dalamnya.

Abu Hurayrah meriwayatkan: "Rasulullأ¢h saw. memeriksa shaff dari satu sisi ke sisi yang lain, beliau mengusap dada-dada dan pundak-pundak kami, seraya berkata: "Jangan kalian berselisih, maka hati kalian akan berselisih [pula]". [HR. Muslim]. Anas bin Malik juga meriwayatkan, bahwa Rasul saw. mengatakan menjelang dilangsungkannya shalat berjamaah: "Tegapkan barisan dan rapatkan, karena sesungguhnya saya melihat kalian dari belakang punggungku".

Namun begitu, para ulama berpendapat bahwa merapatkan barisan tidak merupakan syarat sahnya shalat, ia hanya kesunnatan yang sangat dianjurkan. Perselisihan pendapat terjadi bukan dalam rapatnya shaff, akan tetapi dalam shalatnya makmum yang berdiri sendirian di belakang shaff lainnya.

Sahkah shalatnya makmum yang menyendiri dari shaff-shaff lainnya?

Ada dua pendapat yang saling berselisih mengenai hal ini. Pertama: shalatnya sah akan tetapi makruh. Pendapat ini diwakili oleh Jumhur fuqaha termasuk Syafiiyah. Kedua: shalatnya tidak sah. Pendapat ini diwakili oleh kelompok Hanabilah. Abu Bakrah, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari, sampai kepada Nabi sementara beliau telah melakukan ruku', maka kemudian ia mengikuti ruku' sebelum mencapai shaff. Kemudian ia melaporka hal ini kepada Rasul, maka kemudian beliau mengatakan: "Semoga Allأ¢h menambahkan semangat lebih kepadamu, dan jangan kamu ulangi".

Andaikata seorang datang ke masjid sementara barisan telah penuh semua, maka ia mendirikan shaff di belakang dan menarik salah satu makmum di depannya untuk menjaga agar ia tidak sendirian dalam shaff. Menurut Hanabilah, hal ini harus dilakukan, dan menurut Syafiiyah itu hanya sunnah, sementara menurut Malikiyah orang tsb. tak perlu menarik ke belakang salah seorang di depannya, dan cukup mendirikan shaff di belakang sendirian.

2. Selama bepergian [safar] tidak dengan tujuan kemungkaran, maka syariat Islam memberi keringanan-keringanan tertentu [rukhshah], yang di antaranya adalah meninggalkan puasa Ramadhan. Namun apa kriteriumnya seseorang dianggap musأ¢fir? Apakah jika ia berniat menginap selama seminggu masih tetap dianggap musأ¢fir?

Menurut Hanafiyah, seseorang dianggap mukim [tidak musafir, atau berdomisli] jika ia berniat untuk menginap selama lima belas hari. Menurut Syafiiyah, masa safar hanya tiga hari, jika ia bermaksud menginap selama empat hari, maka ia dianggap mukim. Sementara menurut Hanabilah, masa safar adalah empat hari. Seseorang masih dianggap musafir selama ia tidak bermaksud menginap selama lima hari atau lebih.

Ibnu 'Abbأ¢s meriwayatkan, bahwa Rasulullأ¢h mukim di Makkah selama lima belas hari, dan beliau shalat dengan dua rakaat-dua rakaat [qashr]. [HR. An-Nasأ¢iy]. Riwayat lain dari Ibnu 'Abbأ¢s: "Nabi saw mukim pada masa pembebasan kota Makkah ['أ¢m al-fath] selama lima belas hari, beliau mengosor shalat hingga berangkat ke Hunain" [HR. al-Bayhaqy].

Dari 'Alأ¢' bin al-Hadhramy, ia mengatakan: Berkata Rasulullأ¢h: "Seorang Muhajir menginap setelah menunaikan nusuknya [ibadah haji/umrah] selama tiga hari". [HR. An-Nasأ¢iy]

Wallahu a`lam. Semoga membantu.


Wassalamu'alaikum wr. wb.

Abdul Ghofur Maimoen