Jualan makanan untuk orang berjudi

----- Tanya ----- Assalaamu'alaikum wr.wb. Kemarin saya ada sebuah pertanyaan dari seorang ibu yang mempunyai sebuah warung makan di komplek perusahaan saya. Ibu tsb. mengaku kalau seringkali ada orang beli makanan dari hasil main judi. kalau dia tidak mau melayani, pembeli tersebut akan marah dan mengamuk (maklum orang berjudi biasanya juga mabuk). Yang dia tanyakan adalah bagaimana "status" uang yang dia terima dari orang berjudi tsb. Apakah tidak haram ?? Soalnya kata hadist uang yang dari sumber yang haram akan menghasilkan barang (makanan/keturunan) haram juga ?? benarkah itu ? Wassalam Fatk. ------ Jawab: ------ Wassalamu 'alaikum wr. wb. Benda haram, sebagaimana dijelaskan Ibnu Taymiyah, ada dua macam. Pertama haram karena sifat yang terkadung di dalam benda itu sendiri seperti bangkai, babi dll. Dan kedua haram karena cara mendapatkannya, sebagaimana benda yang diperoleh dari mencuri, berjudi atau cara lainnya yang tidak benar. Yang bersangkutan dengan pertanyaan saudara adalah benda kategori kedua. Dalam hal ini, bila benda tsb bercampur dengan benda lainnya yang halal, maka tidak semuanya menjadi haram. Akan tetapi benda2 yang bencampur itu dapat dipisahkan antara yang halal dan yang haram sesuai dengan jumlah semula. Sebagian ulama shufi memang tidak mau menggunakan benda atau uang yang telah bercampur dengan benda lainnya yang haram, akan tetapi ini tidak didasarkan pada fikih yang benar, namun lebih didasarkan kepada nilai-nilai kusufian. Dan apabila jumlah uang yang bercampur sangat banyak, maka tidak ada lagi alasan untuk mengharamkan kesemuanya, akan tetapi harta yang haram dapat dipisahkan dari yang halal sesuai dengan jumlahnya masing-masing. Adapun harta benda haram [seperti hasil dari judi] yang tidak bercampur dengan lainnya, maka statusnya adalah haram; tidak diperkenankan menggunakannya dalam bentuk apapun, tidak untuk jual beli atau dihibahkan. Orang lain yang mengetahuinya tidak diperkenankan melakukan transaksi dengan penggunanya. Akan tetapi jika harta benda ini telah bercampur dengan harta lainnya yang halal, semisal bercampur dengan harta benda yang didapat dari cara yang benar, maka masing-masing jumlah harta benda, yang halal dan yang haram, memiliki hukumnya tersendiri, sebagaiman keterangan di atas. Namun begitu, sebagian ulama melarang melakukan transaksi dengan seseorang yang mayoritas harta bendanya didapat dari cara yang tidak benar. Jadi, Ibu tsb. dapat melakukan transaksi dengan sang penjudi selama ia tidak yakin bahwa semua uang yang ia miliki diperoleh dari hasil judi. Wassalam Abdul Ghofur Maimoen