Bagaimana Dengan Profesi Saya?

Persoalan pekerjaan pada saat berpuasa terkadang agak merepotkan. Bahkan acapkali kita harus salah tingkah bagaimana cara mengadaptasi pekerjaan rutin tersebut dengan puasa Ramadhan. Di sini ada beberapa perbincangan bersama Syeikh Abdul 'Adhim al Humaily, anggota Komite Syeikh Al Azhar, yang kami ramu dalam mozaik berikut ini:

Saya pegawai biasa, tiap hari saya berangkat memakai angkutan umum yang sering kali berdesakan, tak peduli berdesakan dengan berlainan jenis, nah suatu ketika kondisi libido saya sedang naik, bagaimana dengan puasa saya?
Seharusnya setiap laki-laki dan perempuan agar saling menjauhi ketika dalam angkutan umum. Juga harus memperhatikan kesopanan di tempat umum. Namun apabila keterdesakan seperti dalam sesaknya angkutan umum seperti itu, sedang kondisi syahwat Anda sedang tinggi-tingginya maka ada dua permasalahan dalam hal ini: pertama, bila Anda mampu menundukkan syahwat sehingga tidak terjadi ejakulasi maka puasa Anda tidak batal. Kedua, apabila sampai terjadi ejakulasi maka puasa Anda batal dan Anda wajib mengqadha'nya, tanpa harus membayar kafarat. Anda juga tetap wajib menahan dari hal-hal yang membatalkan puasa (imsaak) di hari itu sampai waktu berbuka.
***

Saya, laki-laki, berprofesi sebagai dokter kandungan dan spesialis wanita, sudah menjadi pekerjaan saya untuk memeriksa hal-hal yang spesifik pada organ kewanitaan. Bagaimana puasa saya bila saya juga diharuskan untuk menyentuh organ-organ tersebut?
Tidaklah berdosa dan rusak puasa Anda, selama Anda tetap sadar kesucian bulan Ramadhan dan selalu berusaha menghormati bulan mulia ini. Anda boleh saja walaupun sampai memeriksa organ intim pasien, selama Anda tetap sadar dengan profesi Anda sebagai dokter yang sedang puasa dan melakukan apa yang seharusnya.
***

Saya pegawai tata-boga di sebuah hotel yang kerap menyuguhkan makanan kepada turis-turis asing, bagaimana dengan puasa saya?
Apabila Anda memang sudah menjadi pegawai tetap dan resmi, maka seharusnya Anda tetap selalu menjaga akidah Anda dan puasa Anda. Dan tetaplah berpuasa, sebab orang yang meninggalkan puasa dengan sengaja dan tanpa halangan merupakan musibah yang sangat besar.
***

Saya bekerja di perusahaan pengecoran baja yang setiap harinya menghadapi pekerjaan berat dan melelahkan, bila puasa saya menjadi lemas dan sering ditegor atasan, sebab sangat bahaya bila saya teledor sedikit saja dalam pekerjaan. Bagaimana dengan puasa saya?
Orang-orang yang mempunyai profesi semacam profesi Anda ini, apabila mereka berpuasa dan bisa manahan (menghindari) masyaqqah (beban yang berat), maka Allah akan memberikan ganjaran yang lebih baik di dunia dan akherat. Namun apabila mereka tetap saja tidak mampu maka bolehlah mereka berbuka puasa dan wajib meng-qadha'.

Persoalannya adalah bila profesi seperti itu memang merupakan pekerjaan tetap. Kapan dia akan mengqadha', sementara dia harus bekerja sepanjang tahun? Dalam kasus seperti ini, mestinya, dia hendaknya sedikit mengurangi tugasnya sehingga tidak membuatnya kecapaian yang mengharuskan membatalkan puasanya. Lain halnya dengan pekerjaan yang tidak tetap, dan tidak mempunyai pilihan lain kecuali ia harus melakukannya pada bulan Ramadhan. Boleh saja orang seperti ini membatalkan puasanya, dan mengqadha'nya di lain hari, di luar Ramadhan.

=======================
Editor: Didik L. Hariri