Alquran dan Revitalisasi Perdagangan

(Refleksi Nuzul Quran)

NuzulQuran adalah peristiwaterbesar dalam rentangan sejarah ummat manusia, suatu peristiwa yang mahapenting bagi seluruh makhluk di muka bumi bahkan jagad raya dan alam semesta. Halini dikarenakan Nuzul Quran merupakanmomentum revolusi kemanusiaan yang luar biasa yang meliputi berbagai aspekkehidupan secara komprehensif seperti teologi, politik, hukum, ekonomi, intelektual, moral bahkan pengembangan sains dan teknologi.

Secara konvensional, Nuzul Quran adalah awal mula diturunkannya Al-Quran kepada NabiMuhammad Saw. Peristiwa tersebut merupakan indikasi kenabian Muhammad Saw dan menjadi embrio kebangkitan agama tauhid (Islam),sekaligus tonggak revolusi kemanusiaan berdasarkan wahyu ilahi.

Kehadiran Alquran membawa sebuah gerakanrevolusi spektakuler yang mencengangkandunia. Dikatakan revolusi, karena dalam waktu yang relatif singkat, Alqurantelah berhasil mengubah dunia, menuju masyarakat tercerahkan, maju danberperadaban. Dengan kehadiran Al-Quran, ummat Islam telah berhasil memimpinperadaban dunia selama lebih tujuh abad. Kemajuan dan keunggulan ummat Islamdisebabkan karena mereka mengamalkan ajaran Al-quran secara komprehensif (tidaksaja ibadah tetapi juga muamalah) dan berpegang teguh padanya secara istiqamah.Inilah yang pernah disabdakan Nabi Muhammad Saw, "Sesunggunya Allah akan mengangkat derjat suatu bangsa karena berpegangteguh pada Al-quran, dan merendahkanmereka karena mengabaikan Al-quran".

Untuk itulah, pada momentum nuzul quran ini, perlu diangkat sebuahtema yang selama ini terabaikan olehumat Islam. Tema tersebut adalah Alqurandan Perdagangan. Tema ini sangat penting untuk diaktualisasikan kaum musliminmenuju kejayaan Islam di masa depan. Tema ini perlu diangkat ke permukaanmengingat kondisi obyektif kaum muslimin di berbagai belahan dunia sangattertinggal di bidang perdagangan. Bidang ini memiliki kedudukan yang sangatpenting dalam membangun peradabanIslam sebagaimana yang banyak dibahasIbnu Khaldun dalam Muqaddimahnya.

Islam memberikan penghargaan yangterhormat kepada para pedagang.Dalam konteks ini Nabi Muhammad Saw  bersabda, dari Mu'az bin Jabal, "Sesungguhnya sebaik-baik usaha adalah usahaperdagangan (H.R.Baihaqi dan dikeluarkan oleh As-Ashbahani). Hadits inidengan tegas menyebutkan bahwa profesi terbaik menurut Nabi Muhammad adalahperdagangan.

Namunsangat disayangkan, kaum muslimin tidak merealisasikan hadits ini dalam realitas kehidupan dan membiarkan perdagangandikuasai orang lain, akibatnya ekonomi ummat Islam terpinggirkan selamaberabad-abad dan ekonomi bangsa-bangsa lain maju pesat menguasai dunia. Gejala ke arah ini sebenarnya pernah terjadi di masa Umar binKhattab, yaitu ketika para sahabat mendapat harta ghanimah yang melimpahmelalui ekspansi wilayah Islam ke Persia, Palestina, Mesir dan negara-negaratetangga, karena itu para pejabat dan panglima tentera Islam mulai meninggalkan perdagangan. Umar mengingatkanmereka, "Saya lihat orang asing mulai banyak menguasai perdagangan, sementarakalian mulai meninggalkannya (karena telah menjadi pejabat di daerah danmendapat harta ghanimah), Jangan kalian tinggalkan perdagangan, nanti laki-lakikamu tergantung dengan laki-laki mereka dan wanita kamu tergantung denganwanita mereka".

Yang patut digaris bawahi daripernyataan Umar tersebut adalah, jika ekonomi perdagangan dikuasai umat lain(bangsa lain), maka sangat dikhawatirkan ummat Islam tergantung kepada bangsatersebut. Apa yang dikhawatirkan Umar tersebut, kini telah terjadi dinegara-negara Muslim, termasuk dan terutama di Indonesia, dimana umat Islamtergantung dengan bangsa-bangsa lain, bahkan ketergantungan itu merasuk kepadakebijakan politik negara muslim, merasuk ke aspek budaya, ilmu pengetahuan,bahkan mengganggu aqidah dan akhlakummat Islam.

Betapaurgennya ummat Islam menguasai perdagangan, sehingga Nabi Muhammad Sawmewajibkan ummat Islam untuk menguasai perdagangan. Dalam sebuahhadits, Nabi Muhammad saw  mengatakan, "Hendaklah kamu berdagang, karena di dalamnyaterdapat 90 % pintu rezeki (H.R.Ahmad).

Haditsini diawali dengan kata 'Alaikum", yang dalam ilmu gramitikal bahasaArab bermakna  fiil amar, artinya perintah yang wajibdilaksanakan. Kewajiban di sini tentunya difahami sebagai kewajiban kifayah.Artinya, jika sebagian ummat Islam telah menguasai perdagangan, maka sebagianummat Islam lainnya terlepas dari dosa kolektif. Tetapi, jika ummat Islam tidak menguasai perdagangan, maka seluruhummat Islam berdosa.

Nabi Muhammadtidak saja memerintahkan dengan kata-kata, tetapi secara langsungmempraktekkannya dalam kehidupan nyata, bahkan sejak usia beliau yang relatifmuda, 12 tahun. Ketika Usia 17 tahun ia telah memimpin sebuah ekspedisi perdagangan ke luar negeri. Profesi inilahyang ditekuninya sampai beliau diangkat menjadi Rasul di usia yang ke 40. AfzalurRahman dalam buku Muhammad A Trader menyebutkan bahwa reputasinya dalam dunia bisnis demikian bagus, sehingga beliau dikenalluas di Yaman, Syiria, Yordania, Iraq,Basrah dan kota-kota perdagangan lainnya di jazirah Arab. Dalam konteksprofesinya sebagai pedagang inilah iadijuluki gelaran mulia, Al-Amin. Afzalur Rahman juga mencatat dalamekspedisi perdagangannya, bahwa Muhammad Saw telah mengharungi 17 negara ketikaitu, sebuah aktivitas perdagangan yang luar biasa.

Semangatinilah seharusnya yang dibangun dan dikembangkan oleh kaum muslimin saat iniagar peradaban kaum muslimin bisa bangkit kembali di jagad ini melalui kejayaanekonomi dan perdagangan. Namun,pada masa kini sektor perdagangan jauh dari dominasi ummat Islam. Menurut buku Menuju Tata Baru Ekonomi Islam (2001,terbitan Malaysia), 93 % perdagangandunia dikuasai oleh negara-negara bukan muslim. Dengan demikian negeri-negerimuslim hanya menguasai 7 % perdagangandunia. Padahal ummat Islam hampir 20 % dari penduduk dunia atau sekitar 1,2milyar orang. Idealnya paling tidak negara [GB2312?]�Cnegara Islam bisa menguasai 20 % perdagangan dunia, bahkan lebihdari itu, karena hampir 70 % sumber-sumber alam terdapat di negara-negara Islam.

Dunia Islam memiliki 70% cadanganminyak dunia dan menguasai 30% sumber gas asli dunia. Negara-negara Islam memasok dan mensuplay 42%permintaan petrolium (minyak) dunia. Data-data tersebut menunjukkan bahwanegeri-negeri muslim memiliki potrensi ekonomi yang cukup besar dan strategis.

Demikian pula peranan dan kiprah ummat Islam dalam perdagangan diIndonesia, masih sangat kecil. Menurutpara pengamat ekonomi, ummat Islam yang berjumlah 85 %, paling hanya menguasaisektor perdagangan sekitar 20- 30 %.

Karenakondisi tersebut, maka peringatan Nuzul Quran pada tahun ini perlu mengangkattema konsep Al-quran tentang perdagangan, agar ummat Islam kembali kepadamasa-masa kejayaan Islam yang menguasai sektor perdagangan.

Perdagangan dalam Al-quran

Pengungkapan perdagangan dalam Al-quranditemui dalam tiga bentuk, yaitu tijarah(perdagangan), bay' (menjual) dan Syira'(membeli). Selain istilah tersebut masih banyak lagi term-term lain yangberkaitan dengan perdagangan, seperti dayn, amwal, rizq, syirkah, dharb, dansejumlah perintah melakukan perdagangan global (Qs.Al-Jum;ah : 9)

Kata tijarah adalah mashdar dari kata kerja yang berartimenjual dan membeli. Kata tijarah inidisebut sebanyak 8 kali dalam Alquran yang tersebar dalam tujuh surat, yaitusurah Albaqarah :16 dan 282 , An-Nisak : 29, at-Taubah : 24, An-Nur:37, Fathir: 29 , Shaf : 10 dan Al-Jum'ah :11. Padasurah Al-Baqarah disebut dua kali, sedangkan pada surah lainnya hanya disebutmasing-masing satu kali.

Sedangkan kata ba'a (menjual) disebut sebanyak 4 kali dalam Al-quran, yaitu 1). Surah Al-Baqarah :254, 2). Al-Baqarah :275, 3). Surah Ibrahim 31 dan 4. Surah Al-Jum'ah :9

Selanjutnya term perdagangan lainnya yang juga dipergunakan Al-quranadalah As-Syira. Kata ini terdapat dalam 25 ayat. Dua ayat di antaranyaberkonotasi perdagangan dalam konteks bisnis yang sebenarnya, yaitu yang kisahal-quran yang menjelaskan tentang Nabi Yusuf yang dijual oleh orang menemukannyayang terdapat dalam surah Yusuf ayat 21 dan 22.

Demikianbanyaknya ayat-ayat Al-quran tentang perdagangan, sehingga tidak mungkin dijabarkan dalam halaman yangamat terbatas ini. Karena itu tulisan ini hanya akan memaparkan salah satukonsep penting tentang perdagangan yang terdapat dalam Al-quran yaitu keharusanummat Islam untuk go internasional.dalam perdagangan.

Dalam surat al-Jum'ah ayat 10 Allahberfirman, " Apabila shalat sudahditunaikan maka bertebaranlah di muka bumi dan carilah karunia Allah sertabanyak-banyaklah mengingat Allah agar kalian menjadi orang yang beruntung..

Apabila ayat ini kita perhatikan secara seksama, ada dua hal penting yang haruskita cermati, yaitu (i) fantasyiruu fial-ard (bertebaranlah di muka bumi) dan (ii) wabtaghu min fadl Allah (carilah anugrah/rezeki Allah).

Redaksi fantasyiruu adalah perintahAllah agar ummat Islam segera bertebarandi muka bumi untuk melakukan aktivitasbisnis setelah shalat fardlu selesai ditunaikan. Ke mana tujuan bertebaran itu? Ternyata Allah SWT tidakmembatasinya hanya sekadar di kampung, kecamatan, kabupaten, provinsi, atauIndonesia saja. Allah memerintahkan kita untuk go global atau fi al-ard.Ini artinya kita harus menembus Timur Tengah, Eropa, Amerika, Australia, Jepang dan negar-negara Asia lainnya. Untukapa kita bertebaran ke tempat-tempat tersebut? Allah menjawab bukan untuktourism belaka, tetapi untuk berdagang dan mencari rezeki "wabtaghu min fadl Allah" (M.Syafi'i Antonio,2003).

Ketika perintah bertebaran ke pasar globalEropa, Australia, Amerika, Asika, Afrika, bersatu dengan perintah berdagang,maka menjadi keharusan bagi kita membawa goods and services dan komoditasekspor lainnya serta bersaing dengan pemain-pemain global lainnya (Cina,Taiwan, Korea, India, Thailand, dan lain-lain). Menurut kaidah marketing yangsangat sederhana tidak mungkin kita bisa bersaing sebelum memiliki daya saing di 4 P: Products, Price,Promotion, dan Placement atau delivery. Hanya dengan produk yang inovatif dan kualitas yang memadai kita bisamerebut pasar. Produk yang inovatif baru akan laku bila dijual dengan harga(price) yang bersaing dan promosi yang efektif. Demikian juga nasabah baru akansetia dan terpuaskan bila kita menyerahkannya (placement) sesuai jadwal danafter sales service (layanan purnajual) yang prima.

Dalam Surat al-Quraish Allah melukiskansatu contoh dari kaum Quraish (leluhur Rasulullah dan petinggi bangsa Arab)yang telah mampu menjadi pemain global dengan segala keterbatasan sumberdayaalam di negeri mereka. Allah berfirman, "Karenakebiasaan orang-orang Quraish. (Yaitu) kebiasaan melakukan perjalan dagang padamusim dingin dan musim panas."

Para ahli tafsir baik klasik, sepertial-Thabari, Ibn Katsir, Zamakhsyari, maupun kontemporer seperti, al-Maraghi,az-Zuhaily, dan Sayyid Qutb,  sepakat bahwaperjalanan dagang musim dingin dilakukan ke utara seperti Syria, Turki,Bulgaria, Yunani, dan sebagian Eropa Timur, sementara perjalanan musim panasdilakukan ke selatan seputar Yaman, Oman, atau bekerja sama dengan parapedagang Cina dan India yang singgah di pelabuhan internasional Aden.

PerintahAl-quran untuk melakukan perdagangan dengan go internasional ke mancanegara telah dibuktikan oleh generasi Islam di masa kejayaan Islam.

PeterL. Bernstein dalam buku The Power of Gold, (2000, p.66-67),  menggambarkan kejayaan ummat Islam genarasiawal dalam melakukan perdagangan internasional..

The Arabs had no difficulty accumulating amassif golden treasure.Their ceativity at the task was impressive… (they)outsmarted their competitors at trade.The Arabs soon succeeded in eatingdeeply in to the hearth of Byzantineeconomic power by setting themselves up as traders of extraordinary acumen andpersistence. In time, They dominated themajor commercial contract that andserved Byzantine so well for so long.Throghout all of the Byzantine sphere of influence, even as the built newcommercial relationships all along theshouthern Mediteranean. The Arab ships plied the sea down the east coast ofAfrika and across the oceans to India,and Chinain search of profit. They even reveled northward, through the riverhighways Of Russia, to the Scandanaviancountries, trading merchandise acquired from across the seas for furs, amber, honey and slaves

Saat inicontoh yang paling dekat dengan kemampuan dagang yang dilukiskan Alquranmungkin Singapura atau Hong Kong, negeri yang miskin sumberdaya alam tetapimampu menggerakkan dan mengontrol alur ekspor di regional Asia Tenggara dan Pasifik.Sementara  Indonesia, yang luas salah satuprovinsinya (Riau) 50 kali Singapura, dengan potensi ekspor dan sumberdaya alamyang ribuan kali lipat, ternyata jauh tertinggal. Mungkin kita harus bercermin pada Alquran danhadits yang selama ini kita tinggalkan untuk urusan bisnis dan ekonomi.

Lemahnya kerjasama Bisnis

Meskipun Alquran cukup banyak membicarakanperdagangan bahkan dengan tegas memerintahkannya, dan meskipun negeri-negeri muslimmemiliki kekayaan alam yang besar, namun ekonomi ummat Islam jauh tertinggaldibanding negara-negara non Muslim. Banyak faktor yang membuat ummat Islamtertinggal dari bangsa lain, antara lain, lemahnya kerjasama perdagangan sesamanegeri muslim. Menurut catatan OKI sebagaimana yang terdapat dalam buku Menujutata baru Ekonomi Islam, kegiatan perdagangan sesama negeri muslim hanya 12 %dari jumlah perdagangan negara-negara Islam.

Fenomena lemahnya kerja sama perdaganganitu terlihat pada data-data aberikut :

Lebanondan Turki mengekspor mentega ke Belgia, United Kingdom dan negara-negaraEropa Barat lainnya. Semenentara Iran, Malayisa, Pakistan dan Syiria mengimport mentegadari Eropa Barat.Aljazairmengekspor gas asli ke Perancis, sedangkan Perancis mengekspornya ke MagribiMesiradalah pengekspor kain tela yang ke 10 terbesar di dunia, tetapi Aljazair,Indonesia, dan Iran mendapatkan kain itu (import) dari Eropa Barat.Aljazair,Mesir dan Malaysia mengimpor tembakau dari Columbia, Greece, India,Philipine dan Amerika Serikat. Sementara Turki dan Indonesia adalah mengekspor utama tembakau keAmerika dan Eropa.

Selain ekspor yang relatif sedikit kenegara-negara Timur Tengah, fakta juga menunjukkan bahwa produk Indonesia yangdibutuhkan negara muslim di Timur Tengah, harus melalui Singapura. Konsekuensinya,yang mendapat keuntungan besar adalah Singapura, karena ia membeli dengan hargamurah dan menjual ke Timteng dengan harga yang mahal. Dan negara kita seringkali cukup puas dengan kemampuan ekspor sekalipun mendapatkan keuntungan marginyang sedikit. Sungguh kebodohan kita dalam perdagangann internasional. Hal initentu bisa mengecewakan Nabi Muhammad yang telah meneladankan sikap fathanah(cerdas) dan komunikatif (tabligh) dalam perdagangan

Mudah-mudahan semangat nuzul quran tahunini dapat mengingatkan kita untuk mementingkan kembali aspek perdagangan yangselama ini kita abaikan dan mampu memasarkan goods dan services yangbersaing di pentas global.
(Penulis adalah Sekjen Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia dan Dosen Pascasarjana Ekonomi Keuangan Islam UI dan Islamic Economic and Finance Trisakti dan Programn Magister Universitas Paramadina)