Hukum Membaca Takbir Seusai Sholat pada Hari-hari Tasyriq

Hukum membaca takbir pada hari-hari Tasyriq (tiga hari setelah Idul Adha). Seperti tercantum dalam kitab-kitab fiqh bahwa membaca takbir pada hari-hari Tasyriq hukumnya sunnah deng

an dalil ayat Quran surah al-Baqarah 203: “Dan berdzikirlah kepada Allah pada hari-hari tertentu”


Mayoritas ulama mengatakan bahwa maksudnya adalah membaca takbir atau dzikir lainnya pada hari-hari Tasyriq. Menurut ulama Syafii dan Hanbali dan sebagian ulama Hanafi disunnahkan membaca takbir karena ada riwayat dari Rasulullah saw bahwa beliau mengajarkan para sahabat melakukan takbir pada hari-hari tersebut, yaitu riwaya Jabir r.a. bahwa Rasulullah saw membaca takbir setelah shoalt subuh hari Arafah, hingga sholat Ashar hari terakhir hari Tasyriq, seusai salam pada sholat fardlu” . Redaksi lain hadist tersebut “Rasulullah saw ketika usai sholat subuh pada hari Arafah menoleh kepada para sahabat dan bersabda “Duduklah di tempat kaian, lalu beliau membaca takbir sampai akhir. Beliau melakukan itu hingga sholat Ashar pada hari terakhir hari Tasyriq”. Hadist tersebut beberapa ulama menghukumi dlaif, namun para ulama mazhab empat hampir semuanya memakai hadist tersebut karena didukung oleh ayat Quran, perilaku para sahabat yang diriwayatkan melalui jalur sahih seperti dari Umar ra, Ali ra, Ibnu Masud ra, Ibnu Abbas ra seperti dikatakan oleh Imam Nawawi. Hadist tersebut meskipun dlaif juga diriwayatkan melalui berbagai jalur seperti disampaikan oleh Dar Quthni.

Waktu pembacaan takbir adalah pada saat selesai sholat fardlu berjamaah atau sendiri. Menurut Hanafi, takbir ini hukumnya wajib, minimal sekali setelah sholat fardlu, baik berjamaah atau sendiri. Bagi lelaki disunnahkan membaca takbir dengan suara keras, sedangkan perempuan dengan suara lirih.
Adaspun sholat sunnah, sebagian ulama juga melihat tetap disunnahkan membaca takbir seusai sholat sunnah apapun pada hari-hari Tasyriq dengan dalil ayat tersebut umum, dan dizkir yang paling dianjurkan adalah setelah sholat. Wallahu a’lam bissowab.

Ditulis: Ustadz Muhammad Niam
Sumber: 
AL-Fiqhul Islami wa Adillatuh 2/530-535
Al-Masu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyah: 7/325