Hukum Memakai Cincin Non Emas

Imam Suyuthi dalam Risalah berjudul al-Jawabul Hatim 'an Suaalil Khatim menjelaskan bahwa memakai cincin selain emas hukumnya tidak haram alias halal.

Tetapi ada pendapat yang mengatakan makruh dikarenakan dalil hadist Buraidah ra bahwa seseorang datang ke Rasulullah saw memakai cincin dari kuningan, lalu Rasulullah saw mengomentari "Aku sepertinya mencium bau berhala pada dirimu" lalu orang tersebut membuang cincinnya. Di hari yang lain orang tersebut datang kembali ke Rasulullah saw memakai cincin dari besi, lalu Rasulullah saw mengomentari "Aku seperti melihat perhiasan penghuni neraka pada dirimu", lalu orang itu membuangnya. Orang itu pun bertanya kepada Rasulullah saw, "lalu sebaiknya aku memakai apa?". Rasulullah saw menjawab: "Pakailah dari perak dan jangan melebihi satu mitsqal". Hadisti ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, Tirmidzi di sanadnya ada rawi yang dianggap lemah, maka Imam Nawawi dalam kitab Majmuk menganggap hadist ini Dlaif, tetapi Ibnu Hibban mensahihkan hadist ini dan mencantumkannya dalam kitab Sahih beliau. (al-Hawi 1/106).

Hadist tersebut oleh para ulama juga dijadikan dalil bahwa sebaiknya memakai cincin tidak melebihi 1 mitsqal, yaitu sekitar 4,6 gram (pendapat lain mengatakan 4,2 gram, ada juga yang membulatkan menjadi 5 gram). Namun sebagian ulama lain mengatakan tidak ada batasan khusus tetapi dikembalikan kepada kebiasaan masyarakat dengan ketentuan jangan berlebihan.
Imam Nawawi dalam Syarah Muhazzab mentarjih pendapat bahwa memakai cincin selain perak hukumnya tidak makruh karena hadist tersebut di atas dlaif. Selain itu juga ada hadist lain riwayat Abu Dawud dari Muaiqib ra berkata bahwa "Rasulullah saw memakai cincin dari besi dilumuri perak".

Bolehkan memakai lebih dari satu cincin? Imam Darimi mengatakan makruh hukumnya memakai cincin lebih dari satu yang keduanya terbuat dari perak. Menurut imam Suyuti, artinya kalau bukan dari perak maka tidak makruh memakai lebih dari satu cincin. Pendapat ini diperkuat oleh imam Asnawi dan Khowarizmi dalam kitab al-Kafi namun sebaiknya apabila memakai lebih dari satu cincin jangan pada satu jari.

Adapun memakai cincin dari emas, pada awal Islam diperbolehkan dan Nabi saw juga memakainya lalu membuangnya setelah turun larangan seperti pada riwayat hadist Sahih. Dari Ibnu Umar ra bahwa Rasulullah saw pernah memakai cincin dari emas, beliau selalu meletakkan mata cincin di bagian dalam ketika memakainya. Orang-orang pun mengikuti beliau. Suatu saat beliau duduk di atas mimbar lalu mencopotnya seraya bersabda "Sebelumnya aku memakai cincin ini dan meamakinya dgn mata cincin di bagian dalam" lalu beliau membuang cincin tersebut dan bersabda "Demi Allah aku tidak akan memakainya selamanya". Lalu orang-orang pun ikut membuang cincin emas mereka. h.r. Bukhari Muslim.

Memakai cincin bermata, biasanya dengan batu mulia, hukumnya mubah untuk lelaki dan perempuan. Imam Nawawi dalam kitab Majmuk mengatakan bahwa memakai cincin dengan mata atau tanpa mata hukumnya boleh. Meletakkan mata cincin di bagian luar atau dalam juga boleh, namun di bagian dalam lebih utama sesuai hadist sahih di atas. Adapun mata cincin Rasulullah saw terbuat dari perak juga, begitu riwayat sahih Bukhari. Riwayat dalam Sahih Muslim menyebutkan riwayat Anas ra bahwa cincin Rasulullah saw dari perak adapun mata cincinnya dari batu Habasyah. Ada juga riwayat yang mengatakan bahwa cincin Nabi dari batu Akik atau sejenis akik yang mempunyai motif. Ada juga riwayat Ibn Baithar dalam kitab al-Mufrodaat fit-Thib disebutkan oleh Imam Suyuthi bahwa cincin Nabi terbuat dari batu Zabarjad. Imam Suyuthi menyimpulkan bahwa itu menunjukkan cincin Nabi saw tidak hanya satu.

Imam Nawawi berkata bahwa Rasulullah saw memakai cincin di tangan kanan dan tangan kiri beliau, namun bagi kita memakai cincin di tangan kanan lebih utama. Ibnu Hajar berkata riwayat bahwa Rasulullah saw memakai cincin di tangan kanan dari hadist Ibnu Umar riwayat Bukhari an Anas dalam riwayat Muslim dan Ibnu Umar dalam riwayat Abu Dawud, ada juga riwayat dlaif mengatakan bahwa Rasul mulanya mengenakan cincin di tangan kanan lalu memindahkannya ke tangan kiri. Ini diriwayatkan oleh Adiy dari Ibnu Umar. Riwayat ini dipakai Baghowi dalam kitab Syarh Sunnah. Ibnu Abi Hatim berkata aku bertanya kepada Abu Zurah tentang riwayat beragam tentang cara bercincinNabi, beliau menjawab bahwa riwayat tangan kiri tidak pasti sedangkan riwayat tangan kanan lebih banyak. (al-Hawi 108).
Selanjutnya pada jari mana Rasul saw memakai cincin?  Para ulama mengatakan bahwa bagi perempuan bebas memakai cincin pada jari apa saja. Adapun lelaki, sunnahnya memakai cincin pada kelingking sesuai hadist sahih Muslim dari Anas ra mengatakan "Cincin nabi dipakai di sini. Beliau menunjukkan kelingking kiri. Imam Nawawi mengatakan bahwa ulama sepakat bahwa yang disunnahkan bagi lelaki adalah memakai cincin di kelingking dan tidak dianjutkan memakai cincin di jari lain seperti penunjuk dan jari tengah. Untuk perempuan diperbolehkan pada jari apa saja. Dalilnya riwayat Muslim dari Ali ra berkata Aku dilarang Rasulullah saw memakai cincin pada jari ini dan ini, beliau menunjukkan jari tengah dan sampingnya. Adapun memakai cincin pada ibu jari, sebagian ulama menganggap itu makruh.

Ditulis Ustadz Muhammad Niam.
Dari berbagai sumber